A.I.T.A
Modul 4 · A.I.T.A

A.I Team

Di akhir modul ini kamu bisa menyusun 'tim AI virtual' 3 peran — strategist, riset, copywriter — untuk 1 proyek kelompok nyata.

Critical thinking, bukan cuma cara pakai

Bab 1 / 4

AI sebagai marketing & social media strategist

Setelah tiga modul belajar pakai AI untuk kebutuhan pribadi — dari cek fakta sampai atur jadwal sendiri — sekarang kita naik level. Modul ini soal kerja tim: kamu dan kelompokmu akan membangun "tim AI virtual" berisi tiga peran, dipakai untuk satu proyek nyata. Bukan proyek karangan, tapi sesuatu yang benar-benar mau kalian jalankan — event ekskul, pameran karya, atau promosi kegiatan sekolah. Begini alurnya, dari riset arah sampai jadi kampanye utuh:

1StrategistRiset arah kampanye
2Tim RisetKumpulkan data & insight
3CopywriterSusun naskah & materi
4ShowcaseRangkai jadi mini campaign
Empat peran AI di modul ini bekerja berurutan — hasil satu tahap jadi input tahap berikutnya.

Tiga peran pertama — strategist, tim riset, copywriter — itu yang kalian bangun satu per bab. Bab terakhir modul ini menyatukan semuanya jadi showcase mini-campaign utuh. Peran pertama sekarang: AI sebagai marketing & social media strategist. Tugasnya bukan bikin desain atau nulis caption — itu peran lain, nanti. Strategist kerjanya di depan: cari tahu siapa yang mau disasar, dan susun rencana kasar kontennya.

Petakan audiens dulu, jangan langsung bikin konten

Kesalahan paling umum kelompok yang baru mulai promosi: langsung lompat bikin poster atau caption tanpa tahu jelas siapa yang mau dibaca. Sebelum itu, ajak AI memetakan audiens dengan prompt konkret.

Contoh

Saya mau promosikan pameran karya AI siswa untuk seluruh siswa SMA kami. Bantu petakan: siapa yang paling mungkin datang (siswa kelas berapa, minat apa), apa yang bikin mereka tertarik datang, dan di platform mana mereka paling aktif — Instagram, TikTok, atau grup WhatsApp angkatan?

Jawaban AI di sini bukan kebenaran mutlak, tapi titik awal diskusi kelompok — bandingkan dengan yang kalian sendiri tahu soal teman-teman satu sekolah, karena kalian yang paling paham realita di lapangan.

Dari peta audiens ke kalender konten

Begitu audiens sudah jelas, jangan langsung minta caption jadi. Turunkan dulu jadi kerangka lewat tiga langkah ini:

  1. Minta kalender kasar. "Susun kalender posting sederhana untuk dua minggu sebelum acara, isinya jenis konten apa saja yang cocok tiap hari — teaser, behind the scenes, atau pengumuman — tanpa caption lengkap dulu."
  2. Cek kepadatannya. Lihat apakah kerangkanya masuk akal dieksekusi kelompok sekecil kalian, atau malah terlalu ambisius.
  3. Minta revisi dengan batasan jelas. Misalnya "kurangi jadi maksimal satu post per hari, dan pastikan tiga hari terakhir sebelum acara isinya reminder, bukan konten baru."

Kerangka yang keluar dari proses ini — hari ke berapa isinya teaser, hari ke berapa testimoni anggota, hari ke berapa pengumuman final — itulah yang nanti dipakai peran copywriter untuk mengisi detailnya di bab lain.

Strategist mengarahkan, bukan memutuskan

Perhatian

Hasil dari AI di peran ini adalah bahan diskusi, bukan keputusan final. Kelompok tetap yang menentukan mana ide yang cocok dengan karakter sekolah kalian dan mana yang terlalu generik. Ekskul yang berbeda punya budaya berbeda — yang jalan di satu sekolah belum tentu jalan di sekolah lain, dan AI tidak tahu detail itu kecuali kalian yang isi lewat diskusi kelompok setelah dapat draf awal darinya.

Sekarang giliran kelompokmu: petakan audiens untuk proyek yang mau kalian jalankan, lalu susun kerangka kalender kontennya. Simpan hasilnya — di bab berikutnya, kita bawa masuk peran kedua dari tim AI virtual ini: bagian riset, yang tugasnya memastikan apa yang mau kalian sampaikan itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan.

1 / 5